Menghindari Konflik Agama, Indoneisa Damai

Bagikan Informasi

malut.polri.go.id Ternate Aksi radikalisme, kekerasan dan teror yang terkait dengan simbol-simbol agama memunculkan dugaan adanya hubungannya dengan pemahaman keagamaan. Meskipun banyak pakar menyebut, aspek pemahaman keagamaan ini bukan merupakan penyebab tungggal.

Tak bisa dipungkiri bahwa ketidakadilan sosial, sentimen kelas ikut memberi andil lahirnya pemahaman dan gerakan keagamaan yang serba mengklaim kebenaran diri dan memaksakannya kepada orang lain bahkan dalam bentuk kekerasan.

Fakta-fakta yang berikut ini membuktikan bahwa kekerasan walaupun secara langsung tidak bermotif agama namun dapat berkait dengan pemahaman agama. Akhir era Orde Baru, kekerasan bernuansa agama mulai marak terjadi.

Kerusuhan Situbondo, Tasikmalaya, Pekalongan, Banjarmasin, dan banyak lagi peristiwa kekerasan bernuansa agama yang terjadi sepanjang tahun 1990-an.

Era reformasi ditandai dengan peristiwa yang sangat kekerasan agama paling memilukan yakni Kerusuhan Ambon, mulai tahun 1999, Isu ninja dan santet di Banyuwangi, aksi-aksi kekerasan berlatar agama dan menjadi satu episode sejarah paling kelam di negeri ini.

Aksi-aksi kekerasan ini berlanjut dengan berbagai aksi pengeboman terhadap tempat ibadah dan fasilitas publik, seperti Bom malam Natal 2001 terhadap beberapa gereja, Hotel JW Marriot, Kedubes Filipina, Bom Bali 2002, Kedubes Australia, hingga serangan terhadap kelompok agama tertentu.

Beberapa peristiwa ini berlangsung terus menerus dalam rentang 2000-2017. Fakta kemudian terungkap pihak kepolisian, bahwa pelaku aksi-aksi pengeboman ini adalah jaringan teroris yang terkait dengan faham keberagamaan yang bersifat transnasional.

Kelompok sejenis dengan menggunakan nama lainnya, juga muncul bersamaan dengan berbagai konflik di Timur Tengah, misalnya Suriah. Mereka sering disebut sebagai kelompok takfiri, yang terbiasa menyebut kelompok lain yang berbeda sebagai ‘sesat’, ‘kafir’ dan ‘anthek zionis’, ‘PKI’ dengan gampang pula mereka melakukan aksi kekerasan, terhadap kelompok yang di katakan sebagai sesat dan kafir itu.

Kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama ternyata tidak berakhir disitu. Sepanjang Era Refromasi berbagai tindak kekerasan yang dilatarbelakangi motif agama tidak juga reda. Oleh karena itu, pergesekan agama harus dihindari, diredam sedari dini.

Peluang-peluang untuk memanfaatkan pergesekan agama sebagai pintu memecah belah bangsa sangatlah besar. Sehingga mau tak mau, pihak kepolisian harus tegas menindak pihak-pihak yang memainkan bibit-bibit perbedaan, terutama perbedaan agama, untuk merusak stabilitas sosial politik di negeri ini.

#IndonesiaDamai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *