Mengenal Kekerasan Berdasarkan Sentimen Agama

Bagikan Informasi

Polda Maluku Utara – Individu-individu dalam beragama menemukan kenyataan agama sebagai realitas sosial memiliki berbagai dimensi yang menyusunnya. Agama tidak hanya berisi dimensi yang normatif – doktrinal semata, berupa ajaran dan teks-teks suci, namun di dalamnya terdapat dimensi pemeluk dengan segenap aspek kehidupan yang melingkupinya, misalnya aspek psikologis, biologis dan lainnya.

Selain itu terdapat wacana tafsir ajaran agama yang sedang dominan, disertai institusi keagamaan, simbol kesucian serta bangunan ideologi yang dibangun dan disucikan oleh pemeluknya. Dalam berbagai kasus kekerasan terhadap simbol agama, terlihat bahwa ada kaitan pemahaman, ideologi dan tafsir dalam bingkai kepentingan pemeluk agama, dengan tindak kekerasan saling berkelindan satu sama lain.

Perilaku kekerasan seringkali muncul akibat dorongan psikis dan pada umumnya seringkali berpusat pada dalam kedalaman diri pribadi manusia. Psikolog Kritis Erich Fromm mengungkap kekuatan yang memotivasi manusia untuk bertindak berasal dari eksistensi manusia itu sendiri.

Pemahaman manusia terhadap agama adalah salah satunya. Dalam diri manusia terdapat syaraf otak. Posisinya ada di area yang bisa menghasilkan impuls-impuls yang mendorong orang berbuat kekerasan. Jadi memang dorongan untuk melakukan kekerasan memang telah menjadi satu dalam diri manusia sebagaimana layaknya dorongan seksual dalam diri manusia.

Pemahaman dan tafsir keagamaan tertentu memperkuat dan memupuk impuls untuk melakukan kekerasan, bila di dalam diri individu telah memiliki kecenderungan untuk melakukan glorifikasi, dehumanisasi dan demonisasi.

Glorifikasi secara  harfiah, berarti menganggap suci diri sendiri. Bentuknya bisa beragam, dan yang sering kali muncul adalah kecenderungan menganggap benar ajaran sendiri, sembari memberi legitimasi dengan ayat-ayat suci agamanya.

Kecenderungan menganggap suci diri sendiri dengan melegitimasi dengan ajaran atau keyakinan yang dianutnya sendiri, kemudian melahirkan dehumanisasi dan demonisasi. Dehumanisasi berarti kecenderungan untuk bersikap dan menganggap orang lain sebagai ­bukan manusia, atau yang selain manusia.

Mereka yang tidak sama dengan pandangan yang sucikan tadi lantas di posisikan dalam tingkat kemakhlukan yang lebih rendah dari manusia. Oleh karena itu di anggap wajar bila kemudian mereka harus di ‘waraskan, dimanusiakan’, baik dari segi prilaku, maupun pemikiran, maupun pemahaman keagamaanya.

Dalam konteks inilah rupanya sebagian orang yang menganggap pandangan dirinya suci, seringkali melakukan pemaksaan agar orang lain seperti dirinya.

Sedang demonisasi, sering berarti penyetanan, melihat orang lain sebagai setan. Demonisasi ini berujung pada sikap ingin menghabisi apa yang di sebutnya sebagai ‘setan’. Upaya menghabisi ‘setan’ dengan kekerasan ini sering dilegitimasi dengan menyadur beberapa ayat dalam sebuah kitab suci utk membenarkan tindakannya.

#IndonesiaDamai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *